Perekonomian Indonesia Dewasa Ini
Dalam perdagangan
internasional, kurs mata uang dapat diartikan sebagai perbandingan nilai antar
mata uang di setiap negara dengan negara lain. Dengan sedikit perubahan nilai
tukar atau nilai kurs merupakan sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai
tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua
mata uang masing- masing negara. Setiap negara selalu menginginkan nilai mata
uangnya stabil terhadap mata uang di negara lain namun untuk mencapai hal tersebut
tidaklah mudah. Menguat atau melemahnya nilai
tukar mata uang tidak hanya ditentukan oleh kondisi dan kebijakan ekonomi dalam
negeri akan tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian negara lain yang
menjadi mitra dalam perdagangan internasionalnya serta kondisi non- ekonomi
seperti keamanan dan kondisi politik
Faktor luar negri yang
mempengaruhi nilai tukar rupiah
September ini, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve,
akan menentukan tingkat suku bunga acuan untuk Dollar Amerika Serikat. Dengan
semua petunjuk yang telah diberikan oleh Federal Reserve, kebanyakan pelaku
pasar berpendapat bahwa tingkat suku bunga USD akan naik, dari 0% menjadi
0.25%. Karena suku bunga adalah harga dari uang, cara Federal Reserve
untuk menaikkan harga uang tersebut adalah dengan menurunkan jumlah
uang beredar. Akibatnya, Kalau jumlah USD yang
beredar turun, namun jumlah mata uang yang lain tetap, maka nilai USD akan
meningkat. Amerika Serikat
adalah perekonomian terbesar di dunia. 20% dari seluruh barang dan jasa di
dunia diproduksi di Amerika Serikat, dan USD adalah mata uang de facto perdagangan
internasional.
Kalau Amerika Serikat, sang perekonomian terbesar, adalah
konsumen terbesar dunia (sejak dahulu menjadibuyer of the last resort), China kurang lebih
adalah pabrik terbesar dunia. China membeli banyak barang mentah atau
setengah jadi dari seluruh negara di dunia, dari Brazil hingga Rusia.
Bayangkan kalau misalkan ekonomi China melambat, sehingga China mengurangi belanja
barang mentah atau setengah jadi dari tiap negara, termasuk Indonesia.
Perlambatan ekonomi China tentu akan menurunkan ekspor dari tiap-tiap negara di
dunia, termasuk Indonesia.
Perlu diketahui bahwa ekspor adalah salah satu sumber utama
penerimaan mata uang asing, terutama USD. Jadi, ekspor dapat digunakan untuk
mewakili supply (penawaran) USD di Indonesia.
Kebalikannya, karena biaya impor dibayar dengan USD, maka impor dapat digunakan
untuk mewakili permintaan USD. Kalau misalkan ekspor turun, maka penawaran USD
akan turun, dan (lagi-lagi), harga USD akan naik.
Faktor dalam negri yang
mempengaruhi nilai tukar rupiah
Pertama, Pola
pembangunan dari zaman dahulu yang fokus ke industri ekstraktif, sehingga
tergantung pada ekspor komoditas. Selama berpuluh-puluh tahun, pembangunan Indonesia
sangat bertumpu pada sektor pertambangan atau tanaman perkebunan (minyak,
batubara, kelapa sawit), yang juga menjadi tumpuan ekspor Indonesia. Tanpa perlu
membangun infrastruktur yang efisien atau memberdayakan manusia Indonesia lewat
pendidikan yang mampu bersaing di pasar internasional pun ekonomi Indonesia
bisa tumbuh. Sebagai akibatnya, sektor yang memerlukan SDM yang kuat, seperti
industri elektronik maupun industri-industri canggih (yang bernilai tambah
tinggi dan tidak terlalu terpengaruh pelemahan China), tidak bisa berkembang.
Kedua, Industri yang terlalu dimanja pemerintah dan kurang berdaya saing,
sehingga makin tergantung pada ekspor komoditas. Kalau kita melihat pola industri di
Indonesia, bahkan setelah 70 tahun merdeka, masih banyak industri yang
ingin dilindungi pemerintah dari persaingan dengan produk luar negeri. kecenderungan industri ketika diproteksi
adalah bahwa industri tersebut mampu meraih keuntungan tanpa melakukan inovasi
atau melakukan efisiensi, sehingga kalau dilepas, memang tidak akan mampu
bersaing. Jadi, perlindungan dari persaingan asing malah hanya membuat industri
dalam negeri tidak efisien
Jadi, selama Indonesia bergantung pada ekspor komoditas (terutama ke China), jangan heran
kalau pelemahan ekonomi China (yang
mengurangi permintaan komoditas ekspor Indonesia) bisa melemahkan Rupiah dan ekonomi Indonesia.
Pemerintah Jokowi, yang diharapkan mampu membawa
reformasi pada tata kelola ekonomi Indonesia, ternyata tidak mau mengambil
keputusan yang sulit. Sebagai contoh, setelah mencabut subsidi, ketika harga
minyak naik mulai bulan Maret 2015, pemerintahan Jokowi memaksa Pertamina untuk
menanggung kerugian dari menjual Pertamina di harga Rp 7.400/liter. Tidak hanya
itu, pemerintah juga mulai mengintervensi mekanisme pasar yang tidak pernah
dilakukan pemerintah sebelumnya, seperti memaksa Jasa Marga menurunkan tarif
tol saat periode Idul Fitri, atau secara tiba-tiba memotong kuota impor sapi
secara drastis.
Seperti halnya segala sesuatu di dunia, pelemahan
Rupiah dapat dibagi menjadi pelemahan
Rupiah yang baik serta pelemahan Rupiah yang buruk.
Secara teori, pelemahan Rupiah dapat memperbaiki
kinerja ekspor serta menurunkan impor. Bila demikian adanya, pelemahan Rupiah
dapat menjadi sesuatu yang baik, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bahkan beberapa negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa
pasca-2008 berlomba melemahkan mata uang agar bisa mendorong pertumbuhan.
Namun kalau kita melihat data, maka kita bisa lihat
bahwa ekspor dan impor Indonesia sama-sama turun seiring dengan pelemahan
Rupiah, walaupun pelemahan impor jauh lebih tajam sehingga kondisi neraca transaksi berjalan lebih baik.
Kenaikan harga barang baku (yang diimpor) akibat USD
yang naik akan membuat kenaikan daya saing (yang seharusnya meningkat) menjadi
tidak seberapa. Kombinasi penurunan permintaan komoditas ekspor Indonesia dan
bahwa kita butuh impor bahan baku untuk bisa melakukan ekspor membuat pelemahan
USD berpotensi melemahkan ekspor lebih lanjut dan mendorong perlambatan
ekonomi.
Sebagai akibatnya, mungkin Indonesia akan mengalami perlambatan ekonomi yang cukup serius
hingga 2016 atau bahkan 2017. Krisis 1997/1998 mungkin tidak akan terulang karena Pertama, Rupiah sudah
bergerak bebas. Efek
dari pergerakan bebas Rupiah adalah bahwa pelaku usaha mengetahui bahwa ada
risiko nilai tukar yang bisa merugikan bisnis mereka, dan mengambil langkah
antisipasi sejak dini. Kedua, tata kelola bank
saat ini lebih baik dibanding 1998. Pada tahun 1998, banyak bank merupakan
anggota dari sebuah konglomerasi bisnis, serta sering disalahgunakan sebagai
sumber pendanaan murah bagi kegiatan anggota dari grup bisnis tersebut tanpa
memikirkan risiko usaha. Walaupun standar penyaluran kredit masih bisa
diperbaiki, anda harus mengakui bahwa krisis 1998 memberi banyak pelajaran
berharga bagi para bank untuk makin hati-hati dalam meminjamkan uang. Ketiga, tata kelola belanja
pemerintah sudah lebih baik dibanding 1998. Pemerintah sudah menerapkan batas
defisit anggaran pada 3% PDB setelah krisis 1998, sehingga risiko gagal bayar
masih sangat rendah. Lagipula, pemerintah saat ini lebih banyak membiayai
belanjanya dari penerimaan pajak (terutama pajak pendapatan) serta penerbitan
surat berharga di dalam negeri, yang lebih aman dibandingkan penerimaan royalti
tambang atau pinjaman bilateral luar negeri seperti di zaman sebelum krisis
1998
Daftar Pustaka
Ulido, Alvin. Memahami Pelemahan Rupiah Secara Benar. Diakses pada tanggal 4 maret 2016. Pukul 9.12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar